Elegi Asmaraloka Amerta
Ranjangmu sudah tua
Termakan habis oleh masa
Tulang-tulang meronta sudah sisa
Merangkak berdiri tak berdaya
Helai rambutmu kian bercahaya
Rona rupa siapa yang percaya
Lipstik merah sudah tak berguna
Dinding rumah yang mengatakannya
Di bawah pohon yang tak bernama
Kita mulai bercengkrama
Menyaksikan cinta tumbuh dewasa
Saat tenggorokan meneguk surya
Termakan habis oleh masa
Tulang-tulang meronta sudah sisa
Merangkak berdiri tak berdaya
Helai rambutmu kian bercahaya
Rona rupa siapa yang percaya
Lipstik merah sudah tak berguna
Dinding rumah yang mengatakannya
Di bawah pohon yang tak bernama
Kita mulai bercengkrama
Menyaksikan cinta tumbuh dewasa
Saat tenggorokan meneguk surya
Kita bertukar jiwa
Bercerita perihal lupa
Memainkan peran bagai boneka
Untuk peran yang berharga
Tanah merah melambai-lambai
Bagai kebun yang akan dituai
Jiwaku dan jiwamu segera berdamai
Kayu dan batu mulai merangkai
Bercerita perihal lupa
Memainkan peran bagai boneka
Untuk peran yang berharga
Tanah merah melambai-lambai
Bagai kebun yang akan dituai
Jiwaku dan jiwamu segera berdamai
Kayu dan batu mulai merangkai
Usia tuliskan cerita yang tersisa
Di atas kayu dan setumpuk langit jingga
Entah siapa yang menulisnya
Siapa yang peduli dengan harganya
Pukul setengah enam
Mata terbenam
Satu titik cahaya bertabrakan
Dua senyuman ia berikan.
“ Sayang, Aku akan terbang
Menuju langit dimana doamu bersemayam “
Di atas kayu dan setumpuk langit jingga
Entah siapa yang menulisnya
Siapa yang peduli dengan harganya
Pukul setengah enam
Mata terbenam
Satu titik cahaya bertabrakan
Dua senyuman ia berikan.
“ Sayang, Aku akan terbang
Menuju langit dimana doamu bersemayam “


No comments: