Dimensi Telapak Surga
/1/
Terhitung ribuan pasir sudah terpilah semenjak ia terbilang jauh
Menunggu diantara ribuan musim-musim yang terdengar penuh dengan keluh juga lusuh
Musim hujan, musim kemarau, musim kehilangan juga musim kerinduan yang kini-
telah menerpa puing-puing telapak surga
Terlihat jelas malam sudah tiba dengan sunyi bergema lirih
menghiasi anting-anting telinga, kini tak henti berdenting
mengikuti jumlah jari yang menyerupai kelereng nan suci berjumlah tiga puluh tiga
lalu tertidur setelah berdialog satu arah hingga pukul tiga
menampakkan dirinya pada semesta
Air mata tak lagi berlinang, kini kering bak kemarau di tanah lapang
Menutup mata terlihat jelas bagaimana wajahnya
Hilang lagi seraya dari jauh terdengar lantunan indah menggema bersuara
"Angkat jemarimu yang masih berjumlah lima kali dua dengan dua lengan menengadah
pada yang Maha, biar aku yang sampaikan pesan-pesanmu kepadaNya"
Syair-syair terlukis indah menembus hingga berbagai dimensi kehidupan
entah itu berbagai musim, organ tubuh, langit ketujuh, apa saja selalu bisa ia tempuh
seperti ruang waktu yang tak banyak orang tahu
Awan-awan melipat waktu, menertibkan nestapa di ujung masa
dan gelap menaburkan rintiknya pada setiap rumah yang kehilangan
setengah demi setengah ruh pemiliknya
Jika esok dimatanya terkadung gerimis
Tolong sampaikan padanya, bahwa itu adalah perwakilan-perwakilan telapak surga
Sampaikan dengan lantang dari seorang cahaya perindu bernama " ibu " yang masih
mendoakannya hingga terbelah jarak yang membentang sendu
Jika rindu sudah mengundang
Semoga lekas pulang
Membawa segenggam rindu
Untuk siapa saja yang pernah merasa kehilangan
Di sana hanya menanam rindu
Di sini letak surgamu
Pada
Dimensi
Telapak
Surga
Aku menunggu kedatanganmu, Nak
/2/
Bu, jika semesta membuatku jatuh ribuan kali hingga patah menjadi makananku
Akankah kau masih bersedia tetap menjadi air untuk membasuh segala keputusasaanku?
Aku bertanya lirih dengan segala resah aku bertasbih
Hati mengetuk, otak mengutuk
Tak berguna, berdosa, kemana saja
Masih ingatkah aku jalan menuju surga ?
Di sana hanya menanam rindu
Di sini letak surgamu
Ucapnya
Masih
Sama
Merindu
Sejak dulu


No comments: