Sebelum Tahun Berganti
I.
Ketika kamu sedang mendamba kemarau yang panjang, menuggu hujan reda adalah pekerjaan yang sulit, sebab di saat seperti itu kamu hanya bisa melakukan dua hal, menggerutu dan memutar ulang setiap kenangan.
II.
Jauh dari rumah dan memberi jarak pada orang-orang yang kita sayangi ternyata tidak mudah, terkadang bayangan-bayangan mereka tiba-tiba hadir, entah pada lampu merah yang seakan menyuruh kita untuk berhenti lalu berputar arah, atau juga pada wajah-wajah asing di sepanjang perjalanan yang mengingatkanku padamu.
III.
Mengapa berbicara denganmu menjadi sesulit ini ?
IV.
Di tempat yang jauh dari ingar bingar ini, kerinduan terkadang menjalar melalui hembusan angin dan daun-daun yang menggugurkan dirinya sendiri.
V.
Bom waktu akhirnya meledak
Kini kita tiba dimana semesta tak lagi berjalan sistematis. Dua orang yang pernah jadi asing kini kembali keperaduannya masing-masing, pernah saling menetap hingga akhirnya tak mau saling menatap, pernah saling berpegangan hingga akhirnya saling menyambut perpisahan.
VI.
Desember akan selalu menjadi bulan penutup sebelum pergantian tahun, tapi ia tak akan bisa menutup cerita-cerita yang telah terjadi sebelumnya. Tahun berganti, kecemasan yang lainnya sedang menanti.
VII.
Entah sejak kapan menulis dan membuat puisi menjadi tidak menyenangkan seperti dulu.
VIII.
Sudah satu jam lebih, dan aku belum mampu untuk menuliskan banyak hal
IX.
Kurang lebih 40 kilometer dari titik dimana aku menuliskan ini
Selamat merayakan hari baik
Merayakannya bersama banyak orang kadang tidak baik
Adakalanya kamu perlu merayakannya sendiri
Di dalam senyap, di kerumuni sepi.
X.
Sebelum tahun berganti, sudahkah kamu menuliskan kecemasan-kecemasan yang baru ?


No comments: