Sebuah Perjalanan Menghapus Luka
Buku berjudul “ Garis Waktu “ ini merupakan karya pertama dari seorang penulis sekaligus pemusik bernama Fiersa Besari ( akrab disapa sebagai “Bung” ). Selain karena menyukai karya-karya musiknya yang telah ada lebih dulu sebelum buku ini, saya juga menyukai konsep desain buku “ Garis Waktu “ yang simpel namun tegas dan juga kesan fotografinya yang memberikan nilai tambah dalam buku ini. Selain itu buku ini juga dipadu dengan tagline “ Sebuah perjalanan menghapus luka “, tagline sederhana yang mampu merangkum seluruh isi dari buku ini, dan tentu saja akan membuat siapapun yang membacanya akan terikat untuk membelinya.
Pertama kali membaca buku ini, saya mengira bahwa buku ini adalah sebuah novel dan ternyata bukan. Menurut saya buku ini adalah semacam prosa yang telah dirangkai dengan alur yang sudah disusun dengan rapi. Dalam buku ini, penulis menggambarkan tokohnya menggunakan sudut pandang orang pertama, tanpa disadari dengan membaca buku ini penulis seolah-olah ingin membuat pembaca seperti diajak untuk merasakan hal sama dengan apa yang sedang dibaca.
Beberapa kutipan pilihan di buku “ Garis Waktu “
Tak perlu menyeragamkan diri dengan kebanyakan orang. Tak perlu repot-repot menyamakan diri dengan orang lain, kau diciptakan untuk menjadi unik. Sudah terlalu banyak orang yang sama seperti kebanyakan orang.
Lebih baik dibenci karena lidah berkata jujur, daripada disukai kerena lidah menjilat. Dan diterima apa adanya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain, itu indah.
- Hal 28
Menyayangimu adalah soal keikhlasan. Bukan keikhlasan untuk terus-terusan diberi harapan semu, melainkan keikhlasan untuk menyadari bahwa memang seharusnya kau berhak bahagia. Urusan apakah aku yang membuatmu bahagia atau bukan, itu tak jadi soal.
- Hal 48
Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu.
- Hal 53
Jika kau bertanya siapa superhero idolaku semasa kecil, aku akan menjawab : Superman. Namun, jika kau bertanya siapa superhero idolaku hari ini, aku akan menjawab : orang tuaku.
Tidak ada pahlawan yang lebih hebat dari orang tua. Mereka tidak punya tubuh baja, tapi mereka punya hati sekuat baja, yang sanggup menerima pukulan bertubi-tubi demi kebahagiaan anaknya. Mereka tidak bisa terbang, tapi dengan segala tenaga yag tersisa, mereka bersedia menopang agar aku mampu terbang dan meraih mimpi.
- Hal 91
Jika mereka bertanya padaku apakah aku menyesal, jawabanku adalah “tidak”. Berhasil ataupun gagal, aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.
- Hal 101
Adalah gengsi yang membuatku tidak mau menyapamu, Mungkin kau pun sama; bertahan di tepian keangkuhan, tak mau jadi orang pertama yang mengucap salam. Walau, kurasa ini yang terbaik. Untuk apa kita saling menyiksa diri ? Kembali untuk memperbaiki kesalahan dengan kembali untuk mengulangi kesalahan memang beda tipis. Dan aku tahu kita tidak mau terjebak euforia sesaat.
- Hal 194
Pada suatu ketika, jagat raya mempertemukan kita dengan caranya yang sederhana. Pada suatu ketika pula, jagat raya memisahkan kita dengan caranya yang luar biasa. Setelah melalui proses panjang, aku bahagia akhirnya kita dapat di pertemukan kembali. Meski bukan sebagai sepasang kekasih, melainkan sebagai dua orang sahabat yang sudah mendapatkan pendewasaannya masing-masing.
- Hal 198



No comments: